Hidayat Nurwahid

Posted: July 8, 2012 in Tokoh politik

Hidayat Nur Wahid adalah mantan Ketua DPR RI periode 2004-2009 yang juga merupakan politisi Partai Keadilan Sejahtera. Hidayat Nur Wahid (HNW) pada tahun 2012 mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Jakarta bersama Didik J Rachbinisebagai calon wakil gubernur. Hidayat-Rachbini bersaing dengan calon kuat lainnya yaitu Jokowi-Ahok dan calon incumbent Foke. Mari kita simak kisah hidup Pak Hidayat.

Hidayat Nur Wahid

Biografi Hidayat Nur Wahid

Hidayat Nur Wahid semasa kecil bercita-cita menjadi dokter. Alasannya sederhana. Karena ingin dirinya dapat membantu sesama. Namun, keikhlasannya menjalani skenario hidup dari Allah membawanya ke dunia yang tak pernah dicita-citakannya: dunia politik. Kendati demikian, tekadnya tak berubah. Di manapun beraktivitas, dia selalu berupaya menjadi bagian dari solusi. Bukan justru bagian dari masalah. Hidayat kecil hidup seperti anak-anak desa lainnya. Bermain di sawah, mencari ikan di sungai dan menggembala ternak. Ayah beliau yang seorang guru berpikir jauh ke depan. Hidayat dikirimnya ke pondok pesantren modern Gontor. Rupanya, inilah yang menjadi dasar bagi langkah besar Hidayat ke masa depan.

Dari Gontor, Hidayat melanjutkan pendidikannya ke Madinah, Arab Saudi. Sebentar saja di sana. Hanya 13 tahun…

Sepulang dari Madinah, sebetulnya Hidayat ingin pulang dan mengamalkan ilmunya di Yogyakarta. Dekat dengan kampung kelahiran di Prambanan. Namun, teman-temannya di Jakarta mencegatnya. Mereka membutuhkan peran Hidayat.

Di Jakarta, Hidayat pun serius beraktivitas sebagai tenaga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Islam Asy Syafiiyah. Tampaknya Allah punya skenario lain. Rekan-rekan Hidayat yang semula membuat LSM, kemudian mendirikan partai. Tunduk pada keputusan musyawarah, Hidayat pun didaulat menjadi deklarator Partai Keadilan (PK).

Berawal di PK inilah Hidayat berkiprah di dunia politik yang terkenal kejam, penuh intrik dan secara salah kaprah dianggap sebagai dunia yang kotor dan menghalalkan segala cara. Namun, politik tidak mengubah prinsip hidup Hidayat yang dipegangnya sejak kecil. Hidayat bertekad menjadikan politik sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa. Bukan sebaliknya, menjadikan politik sebagai sumber masalah bagi bangsa.

Kiprah Hidayat di PK dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus menanjak. Bahkan, Hidayat pernah dua kali menjadi “Presiden”. Yakni, Presiden PK dan PKS. Hidayat juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, PKSberhasil meraih suara 7,3 persen pada Pemilu 2004. Padahal, dalam Pemilu 1999, PK baru mendapat 1,53 persen suara. Hidayat juga menjadi salah satu anggota DPR periode 2004-2009 yang terpilih dengan suara melebihi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hal ini menunjukkan bahwa Hidayat adalah figur yang siap mengemban amanah apapun dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi.

Kemampuannya sebagai pemimpin juga diperlihatkan ketika menjadi Koordinator Lapangan aksi sejuta umat menentang agresi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Aksi yang diikuti beragam komponen masyarakat itu berlangsung dengan tertib dan damai.

Hidayat juga pembelajar yang cepat. Dia belajar dengan maksimal di mana saja dia mendapat amanah tugas. Termasuk ketika terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Hidayat mengaku, dulu dia tak akrab dengan Undang-Undang Dasar. Tetapi kini UUD 1945 dihafalnya luar kepala. Ini karena Hidayat selalu berprinsip, apapun amanah yang didapat, dia akan mengerjakannya dengan maksimal.

Dia dengan cepat dikenal sebagai politisi yang senantiasa mengedepankan moralitas. Selaras dengan profilnya yang sederhana, low profile dan tawadhu (rendah hati). Sosok Hidayat sebagai pribadi dan pemimpin berjiwa sosial sudah sangat dikenal masyarakat. Dia selalu terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan peduli korban bencana. Sebut saja bencana banjir ibukota, tsunami Aceh, gempa Yogya dan Jateng serta lokasi-lokasi bencana lainnya. Sebut juga aktivitasnya dalam menyantuni anak-anak yatim, pembangunan masjid dan pesantren, pemberian beasiswa bagi pelajar tak mampu dan berbagai aktivitas sosial lainnya.

Sebagai dai, saat ini Hidayat berperan sentral dalam pembangunan Masjid Raya Al Muttaqun, Prambanan, Klaten. Idul Adha 1429 H lalu, dia menjadi imam sekaligus khatib di Alun-alun Klaten. Tanpa canggung, dia pun menyembelih sendiri dua ekor sapi kurban. Sebelumnya, ketika Idul Fitri 1429 H di Boyolali, dia menyampaikan khutbah di hadapan ribuan jamaah. Sampai saat ini, Hidayat juga masih aktif mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid serta mengisi acara-acara kajian Islam di stasiun-stasiun televisi.

Kepedulian Hidayat terhadap keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila juga tak diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan Hidayat selalu menegaskan: Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan final bangsa Indonesia. Begitu pula komitmennya pada UUD ’45. Hidayat selalu menyatakan sebagai pihak yang berada di garda terdepan untuk mempertahankannya.

Hidayat juga diterima tokoh-tokoh internasional. Sejumlah seminar, dialog dan forum-forum diskusi tingkat internasional dihadirinya. Mulai dari dialog agama di Makkah, dialog antaragama di Madrid, Spanyol, seminar isu-isu kontemporer dengan Lee Kuan Yew di Singapura hingga konferenesi internasional Amerika dan Islam di Doha, Qatar.

Tiga belas tahun menuntut ilmu di Madinah, Arab Saudi tidak membuat Hidayat tercerabut dari akar budaya Jawa. Hidayat tetaplah Wong Jowo yang suka wayang. Dia bahkan mengidolakan tokoh Kresna. Alasannya, Kresna adalah sosok pemimpin yang bijak, mengayomi, menjaga persatuan dan bisa mencari solusi bagi setiap masalah.

Di rumah orangtuanya di Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, Hidayat menyimpan hingga tiga buah wayang Kresna bersama kitab-kitab kuning. Kecintaan pada wayang ditunjukkan dengan kesediaannya menjadi Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan hadir membuka festival wayang internasional pertama di Surabaya.

Hidayat kini tak lagi hanya milik PKSHidayat sudah menjadi milik bangsa. Makin banyak kalangan yang merasa turut “memiliki” Hidayat. Hidayat dengan gembira menyambut siapa saja untuk turut bersamanya berjuang demi bangkitnya kembali Indonesia.

Sebagai wujud cinta tanah kelahiran, kini Hidayat siap menjalankan tugas dari partai untuk dicalegkan di Dapil V Jateng (Klaten, Solo, Boyolali, Sukoharjo). Tekadnya tetap sama. Yakni berusaha memaksimalkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat melalui kewenangan sebagai anggota dewan untuk menyusun anggaran, mengontrol eksekutif dan membuat UU yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Hidayat berharap semua pihak berupaya menghadirkan Pemilu di Dapil V yang berkualitas. Karenanya, seluruh pihak diminta berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini dengan menjauhi segala bentuk pelanggaran, black campaign dan money politics.

Video Hidayat Nur Wahid di Youtube

Profil
Nama: Dr. HM. Hidayat Nur Wahid, MA
Tempat/Tanggal Lahir: Klaten, 8 April 1960

Alamat:
– Jl. Widya Chandra IV/16, Jakarta (Rumah Dinas Ketua MPR)
– Jl. H. Rijin RT 01/09 No. 196, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi
– Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten (Rumah Orangtua)

Nama Istri:
– (Almarhumah) Hj. Kastian Indriawati
– dr. Diana Abbas Thalib, MARS.

Nama Anak:
* dari istri pertama:
1. Inayatu Dzil Izzati
2. Ruzaina
3. Alla Khairi
4. Hubaib Shidiqi
* dari istri kedua:
1. Nizar Muhammad

Pendidikan:

  • SDN Kebondalem Kidul I, Prambanan, Klaten (1972)
  • Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur (1973)
  • Pondok Modern Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1978)
  • IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syariah, Yogyakarta (1979)
  • Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Saudi Arabia; (1983)
  • Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah Arab Saudi, jurusan Aqidah (1987)
  • Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah dan Ushuludiin, Jurusan Aqidah (1992)

Organisasi:

  • Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) (1973)
  • Andalan Koordinator Pramuka Gontor bidang kesekretariatan (1977-1978)
  • Training HMI IAIN Yogyakarta (1979)
  • Sekretaris MIP PPI Madinah Arab Saudi (1981-1983)
  • Ketua I Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Saudi Arabia (1983-1985)
  • Peneliti LKFKH (Lembaga Kajian Fiqh dan Hukum) Al Khairot
  • Ketua Umum LP2SI (Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam) Al-Haramain Jakarta (sejak 1993)
  • Anggota Pengurus badan Wakaf Pondok Modern Gontor (1999)
  • Pengurus Islamic Center IQRO Bekasi
  • Ketua Dewan Pendiri Partai Keadilan (PK)
  • Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan (1998-1999)
  • Anggota Steering Commitee IIFTIHAR untuk International Seminar and Workshop on Islamic Economics (1999)
  • Presiden Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) (2000-2004)
  • Ketua Majelis Syuro Ikatan Da’i Indonesia (IKADI)
  • Ketua Forum Dakwah Indonesia
  • Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI (2005-2010)
  • Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI)
  • Wakil Ketua Wali Amanat Al Quds Foundation yang diketuai Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawy
  • Anggota Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
  • Ketua Dewan Pembina Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)

Pekerjaan:

  • Dosen Pasca Sarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
  • Dosen Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
  • Dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah JakartaDosen Fakultas Ushuluddin (Program Khusus) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Dosen Pasca Sarjana Universitas Asy-Syafi’iyah, Jakarta
  • Ketua LP2SI (Lembaga Pelayanan Pesantren dan Studi Islam) Yayasan Al-Haramain, Jakarta
  • Dewan Redaksi Jurnal Kajian Islam Ma’rifah Jakarta
  • Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia (MPR RI) (2004-2009)
dalam Twitter @TrioMacan2000 : – Jika mau cari pemimpin yg amanah, integritas bagus, santun, alim, istiqomah dst…Hidayat adalah pilihan terbaik
– Jika Hidayat jadi Gubernur Jakarta, rakyat DKI akan aman, tenang dan nyaman. Tak akan diselewengkan 1 rupiah pun uang rakyat /APBD
–  Hidayat juga orangnya bersahaja. Satu kata dgn perbuatan. Jujur. Saya masih teringat dulu ketika kami berkunjung ke rumahnya, Dulu ketika pilpres 2004, dlm rangka minta dukungan PKS utk SBY – JK, utusan SBY- JK datang berkunjung ke rumahnya yg jauh dipelosok, Sungguh kaget bukan kepalang, ketika kami sampai pukul 4 pagi di rumahnya yg sangat sederhana itu, kami lihat hidayat tidur di lantai, Kami bisa tahu karena kami yg duduk di ruang tamu, “curi lihat” kamar tidur Hidayat. Beliau persis amalkan hidup seperti Rasulullah. Padahal Hidayat saat itu adalah Presiden PKS. Partai menengah yg sangat solid dan signifikan pengaruhnya di indonesia. Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s